Sekretaris Kabinet (Seskab) Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa Pertamax merupakan bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi yang harganya mengikuti pergerakan harga minyak dunia. Penjelasan ini disampaikan untuk merespons penyesuaian harga BBM nonsubsidi yang dilakukan Pertamina.
Teddy menjelaskan bahwa berbeda dengan Pertalite dan Solar yang merupakan BBM bersubsidi dan harganya tetap, Pertamax dan varian BBM nonsubsidi lainnya akan menyesuaikan kondisi pasar global. Ia menegaskan harga BBM subsidi tidak mengalami perubahan, yakni tetap Rp10.000 per liter untuk Pertalite dan Rp6.800 per liter untuk Solar.
Menurutnya, kenaikan harga minyak dunia dalam beberapa waktu terakhir turut memengaruhi penyesuaian harga BBM nonsubsidi di dalam negeri. Namun demikian, pemerintah disebut telah menahan kenaikan harga selama beberapa bulan sebelum akhirnya dilakukan penyesuaian.
Meski terjadi kenaikan, pemerintah menyebut harga Pertamax di Indonesia masih lebih rendah dibandingkan harga BBM RON 92/95 di sejumlah negara Asia Tenggara, seperti Filipina, Thailand, Myanmar, Laos, dan Singapura.
Penjelasan tersebut juga disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap isu harga BBM, termasuk aksi unjuk rasa mahasiswa yang menyoroti kebijakan energi di Jakarta.
Dikutip dari antaranews.com
