Jakarta – Harga minyak dunia kembali melonjak pada perdagangan Jumat, bertahan di atas USD 100 per barel selama dua hari berturut-turut. Lonjakan ini terjadi karena konflik Iran yang memasuki pekan ketiga serta terhentinya lalu lintas kapal tanker minyak di Selat Hormuz, jalur pengiriman minyak global yang strategis.
Harga minyak mentah Brent naik 2,67% menjadi USD 103,14 per barel, sementara minyak mentah WTI AS menguat 3,11% ke USD 98,71 per barel.
Meski Amerika Serikat (AS) dan sekutunya telah meluncurkan berbagai langkah untuk menekan harga energi—termasuk pelepasan cadangan minyak 400 juta barel, pengecualian pembelian minyak Rusia bagi India, dan pertimbangan melonggarkan Jones Act—pasar tetap khawatir terhadap ketidakpastian pasokan.
Kekhawatiran meningkat setelah sejumlah kapal asing diserang di sekitar Selat Hormuz, meningkatkan risiko guncangan ekonomi global. CEO EnQuest, Amjad Bseisu, memperingatkan sekitar 20 juta barel minyak hilang setiap hari dari pasar akibat gangguan ini, yang bisa menyebabkan krisis energi lebih lama dibandingkan krisis embargo minyak Arab 1970-an.
Para analis memperingatkan potensi harga minyak bisa menembus USD 200 per barel jika konflik berkepanjangan terus mengganggu keamanan kawasan Timur Tengah.
Dikutip dari liputan6.com
