Nilai tukar rupiah kembali melemah terhadap dolar AS pada penutupan perdagangan Jumat, 19 Desember 2025, turun 0,16% atau 27 poin menjadi Rp16.750 per dolar AS, menurut data Bloomberg. Pelemahan ini terjadi seiring meredanya inflasi di AS yang memicu ekspektasi pemangkasan suku bunga The Fed.
Analis Pasar Uang, Ibrahim Assuaibi, menyebut bahwa data inflasi AS dipengaruhi penutupan pemerintah selama 43 hari, sehingga beberapa data menjadi distorsi. Pasar kini menunggu rilis indikator inflasi utama The Fed, yakni Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi Inti (Core PCE), serta Indeks Sentimen Konsumen dari Universitas Michigan.
Selain faktor global, geopolitik juga memengaruhi rupiah. Pertemuan pejabat AS dan Rusia terkait konflik Ukraina menjadi sorotan, di mana tindakan yang menargetkan minyak Rusia berpotensi menimbulkan risiko pasokan, bahkan lebih besar daripada blokade kapal tanker Venezuela.
Di dalam negeri, Bank Dunia memperingatkan kesehatan fiskal Indonesia. Proyeksi defisit APBN diperkirakan melebar mendekati batas psikologis 3% hingga 2027, seiring penurunan rasio pendapatan negara terhadap PDB dari 13,5% (2022) menjadi 11,6% (2025) dan peningkatan rasio utang pemerintah pusat menjadi 41,1% pada 2026.
Dikutip dari RRI.co.id
