Tahun 2024 menjadi titik balik penting bagi konservasi Banteng Jawa (Bos javanicus). IUCN menaikkan statusnya menjadi Critically Endangered, menegaskan bahwa spesies ini berada di ambang kepunahan di alam liar. Penurunan populasi global lebih dari 80 persen dalam dua dekade terakhir menjadikan upaya konservasi mendesak.
Di Indonesia, Balai Besar KSDA Jawa Barat (BBKSDA Jabar) memimpin program reintroduksi Banteng Jawa di Cagar Alam Pananjung Pangandaran. Lokasi ini memiliki nilai sejarah penting dalam pelestarian banteng, mulai dari introduksi pertama pada 1922 hingga kepunahan populasi lokal pada 2023.
Momentum penting terjadi Desember 2024 ketika empat ekor banteng dilepasliarkan di Padang Rumput Cikamal. Hingga akhir 2025, dua anak banteng lahir, bernama Eksploitasia dan Haruni, menandai keberhasilan awal reintroduksi.
Program ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak: BBKSDA Jawa Barat, Kementerian Kehutanan, Taman Safari Indonesia, Star Energy, pemerintah lokal, masyarakat, dan media. Pemantauan intensif mencakup kesehatan satwa, adaptasi perilaku, keamanan habitat, serta penggunaan teknologi untuk pengawasan real-time.
Keberhasilan reintroduksi ini memberi harapan baru bagi populasi Banteng Jawa dan berkontribusi pada keseimbangan ekosistem Pangandaran. Upaya ini menunjukkan bahwa spesies yang hampir punah masih bisa diselamatkan melalui kolaborasi, ilmu pengetahuan, dan komitmen jangka panjang.
Dikutip dari timesindonesia.co.id
