Sekretaris Jenderal DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Hasanuddin Wahid menyatakan bahwa di era digital saat ini mencari guru untuk mempelajari ilmu pengetahuan menjadi sangat mudah. Namun, menurut dia, mencari guru untuk membentuk adab tidak bisa dilakukan secara sembarangan.
Ia menegaskan bahwa di tengah dinamika politik Indonesia yang semakin kompleks, pragmatis, dan cenderung transaksional, PKB memilih kembali pada warisan ulama sebagai kompas perjuangan. Salah 1nya dengan mengkaji kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari.
Menurut Cak Udin, ada 2 alasan utama PKB mendalami karya tersebut. Pertama, sebagai bentuk kecintaan sekaligus komitmen intelektual terhadap pemikiran Hasyim Asy’ari, agar kader PKB tidak hanya terhubung secara historis, tetapi juga secara nilai dan perjuangan sebagai santri Hadratussyaikh.
Ke-2, sebagai bentuk pengabdian dalam menjaga dan membesarkan karya terbesar Hasyim Asy’ari, yakni Nahdlatul Ulama (NU). Bagi PKB, merawat NU bukan sekadar mengenang sejarah, melainkan tanggung jawab ideologis.
Ia menambahkan, sekompleks apa pun tantangan politik nasional, PKB tetap memiliki pegangan nilai yang bersumber dari kitab kuning karya para ulama. Menurutnya, tidak banyak partai politik yang menjadikan kitab kuning sebagai arah dan landasan perjuangan politiknya.
Sumber antaranews.com
