Ketua Komisi VII DPR RI, Saleh Partaonan Daulay, menyoroti potensi UMKM Tenun Ikat NTT yang kaya motif dan variatif. Masing-masing suku dan pulau di NTT menghasilkan motif tenun yang berbeda, menjadikan produk ini kompetitif di pasar lokal maupun nasional.
Saleh menekankan pentingnya dukungan akses modal, termasuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan Penyertaan Modal Negara (PMN), serta pembinaan rutin dari pemerintah untuk meningkatkan kualitas produk. Dengan pembinaan yang tepat, pelaku UMKM di pedesaan NTT dapat menghasilkan produk dengan nilai jual tinggi, beberapa bahkan mencapai harga Rp2,5–3 juta per kain, setara dengan batik berkualitas di Jakarta.
Pengembangan UMKM tenun di NTT diyakini dapat menjadi penggerak ekonomi desa, terutama karena lahan pertanian dan sumber air terbatas. Jika pemerintah mendampingi pelaku usaha secara intensif, produk tenun NTT dapat dipasarkan ke seluruh Indonesia bahkan ke luar negeri, meniru kesuksesan batik Jawa.
Dengan strategi yang tepat, UMKM Tenun Ikat NTT bukan hanya mendukung pelaku usaha kecil, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif dan keberlanjutan ekonomi masyarakat lokal.
Dikutip dari antaranews.com
