Pemerhati lingkungan sekaligus akademisi Universitas Udayana, Prof. Ni Luh Kartini, menyoroti penurunan kualitas air danau-danau di Bali akibat pencemaran, sedimentasi, dan aktivitas manusia di kawasan sekitar danau.
Menurutnya, danau-danau di Bali yang berada di wilayah pertanian menghadapi ancaman serius dari penggunaan pestisida, pupuk kimia, limbah domestik, hingga erosi lahan. Kondisi tersebut menyebabkan eutrofikasi atau meningkatnya kesuburan perairan yang berdampak pada menurunnya kadar oksigen di dalam air.
Prof. Kartini menyebut salah satu indikasinya terlihat di Danau Batur yang mulai berubah warna menjadi hijau dan memicu kematian ikan akibat rendahnya kadar oksigen.
Empat danau besar di Bali yakni Danau Beratan, Danau Tamblingan, Danau Batur, dan Danau Buyan disebut mengalami penurunan kualitas air. Selain pencemaran, sedimentasi juga menyebabkan pendangkalan danau secara signifikan.
Ia mengungkapkan kedalaman Danau Buyan yang sebelumnya sekitar 140 meter kini tersisa sekitar 80 meter. Sementara Danau Batur yang dulunya mencapai 120 meter kini berkisar antara 64 hingga 80 meter.
Kondisi tersebut juga berdampak pada menurunnya debit mata air yang menjadi sumber air masyarakat. Selain itu, keberadaan keramba jaring apung dan dominasi ikan invasif jenis red devil di Danau Batur turut mengancam populasi ikan lokal endemik.
Untuk menjaga ekosistem danau, Prof. Kartini mendorong penerapan pertanian organik, pengelolaan limbah terpadu, serta pengawasan pembangunan di kawasan sempadan danau. Ia juga menilai pelestarian danau membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan agar upaya pemulihan lingkungan dapat berjalan berkelanjutan.
Dikutip dari antaranews.com
