Nilai ekspor batik Indonesia pada 2025 mencapai USD20,14 juta, meningkat 32,5 persen dibandingkan capaian 2024 yang sebesar USD15,20 juta. Pertumbuhan tersebut menunjukkan masih terbukanya peluang pengembangan batik sebagai bagian dari industri kreatif Indonesia.
Kepala Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia Syukur Idayati mengatakan batik memiliki peran sebagai warisan budaya sekaligus bagian dari aktivitas ekonomi dan industri kreatif. Menurutnya, pengembangan industri batik perlu menjaga keseimbangan antara tradisi, inovasi, keberlanjutan, dan kebutuhan pasar.
Ekosistem industri batik saat ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Data Kementerian Perindustrian mencatat terdapat sekitar 5.946 industri batik dan lebih dari 200 sentra batik yang berada di 11 provinsi.
Meski mencatat pertumbuhan secara tahunan, kinerja ekspor batik pada awal 2026 masih menghadapi tantangan. Pada semester I 2026, nilai ekspor batik tercatat USD4,39 juta, lebih rendah dibandingkan USD5,09 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Syukur menilai kondisi tersebut menjadi salah satu alasan perlunya pengembangan produk dan pasar yang sesuai dengan perubahan kebutuhan konsumen. Batik dapat dikembangkan menjadi produk ready-to-wear, aksesori, hingga berbagai produk gaya hidup yang terhubung dengan rantai industri fesyen.
Selain pengembangan produk, Kementerian Perindustrian mendorong pemanfaatan teknologi digital untuk memperluas industri batik. Teknologi dapat dimanfaatkan dalam eksplorasi motif, pengembangan desain, pemasaran, hingga membuka akses pasar yang lebih luas.
Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian, mulai dari tahap perancangan produk dengan mempertimbangkan faktor lingkungan, sosial, ekonomi, serta keberlangsungan pelaku dan pengetahuan tradisional.
Pengembangan batik juga diarahkan untuk menjaga regenerasi perajin dan pengetahuan membatik. Sejumlah pelaku industri mulai menggabungkan teknik tradisional dengan desain kontemporer agar batik tetap relevan dengan kebutuhan konsumen.
